Posted on 27-08-2008 | By: Rahim Rasyid |
Category : CerPen
Tags: pemuda
Malam pun semakin gelap dan dalam. Kesunyian telah kuasai jalanan desa yang belum beraspal. Ditengah keheningan itu sang pemuda berjalan berhiaskan senyuman penuh harapan terlihat di wajahnya. Derap langkah pasti pun terdengar sangat jelas memecahkan suasana. Pintu rumah pun terbuka setelah ketukannya membangunkan penghuni rumah. “Dari mana saja kah engkau ini?” tanya sahabatnya yang mencemaskan keberadaannya.”Semuanya telah engkau resahkan dengan menghilangnya dirimu tanpa pesan yang jelas” tambah sahabatnya. Pertanyaan tersebut hanya dibalas senyuman olehnya. Sang sahabat pun mulai kebingungan dengan sikap si pemuda. Dengan suara pelan namun jelas, pemuda itu berkata “ Kini aku telah menemukan jawaban dari semua pertanyaan aku”. Si sahabat pun merasa tenang saat mendengarkan jawaban tersebut walaupun dia tidak tahu maksud dari kata-kata itu.
Sang surya pun mulai temui bumi di pagi hari. Suasana pagi yang indah, berhiaskan tabir embun putih dan udara segar menusuk dada. Jendela kamar pun dibuka oleh si pemuda tuk sambut sinar matahari pagi. Pemuda itu menarik nafas begitu dalam agar udara pagi bersihkan paru-paru. Tertahan lama udara itu seakan tak bisa keluar dari tubuh pemuda. Perlahan mata terbuka sembari menghela nafas yang tertahan. “Pagi indah, kini aku tak kan mengurung rasa yang telah kembali”, teriak pemuda dalam hati.
Posted on 24-08-2008 | By: Rahim Rasyid |
Category : CerPen
Tags: pemuda
Sore hari yang diwarnai oleh senja, dihiasi rintik hujan turun dari langit yang biru. Dari ujung jalan mulai muncul sosok tubuh yang berjalan sembari berpikir akan sesuatu hal. Kian lama kian jelas nian siapa pemilik sosok tersebut. Langkah demi langkah diiringi oleh pertanyaan yang belum dia dapatkan jawaban. Kepala yang tertunduk menatap wajah jalan yang dilewati dengan mimik wajah penasaran. Walaupun hujan pun mulai ramai menyapa jalanan, dia tetap melangkah saja tak menggubrisnya. Semua mata memandanginya dengan penuh tanya, “ada apakah gerangan dengan pemuda tersebut????” tanya seorang ibu kepada orang di sebelahnya. “saya juga kurang bisa menebak ada apa yang terjadi dengan dia. Semoga dia tidak ada pikiran tuk melakukan hal yang aneh-aneh saja” jawabnya.
Kerumunan orang pun dilewati tanpa ada basa-basi. Fokusnya akan pertanyaan yang rangkul otaknya buat dia tidak perhatikan keadaan sekitar. “apakah aku bisa melewatinya??” tanya dia kepada diri sendiri. Pertanyaan yang begitu luas sekali, sampai-sampai dia tidak bisa menemukan jawaban untuk itu.
Hujan pun mulai bosan tuk berpesta. Perlahan mereka meninggalkan pemuda itu dalam kesendiriannya. Sang surya pun menampakkan wajahnya walaupun tidak secerah saat siang hari. Tiba-tiba dia berhenti melangkah dan menatap sayu kepada surya, seakan-akan dia tidak berharap akan kehadiran cahaya tersebut. Dia merebahkan tubuh di tengah taman yang masih basah. Tangan menyilang dibelakang kepala sambil menghela nafas panjang.”Benarkah semua yang telah aku lalui ini?. Ataukah ku hanya berjalan dengan kebimbangan yang tidak ku ketahui?” kembali terdengar kata dari hati pemuda itu.
——————————–to be continued——————